Kajian Parenting Bulan April 2025 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah, Pada hari Sabtu, 26 April 2025 ini, Kami mendapatkan kesempatan untuk mengadakan kajian Parenting bersama Ustadz Drs. Muhammad Ridjal, Psikolog dengan tema “Membangun Kecerdasan Emosi Sejak Dini pada Anak” yang diadakan di Masjid Baiturrahman LBE Salira.

Kajian ini dihadiri oleh para Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman & segenap pengajar ngaji di TPQ Masjid Baiturrahman.

Kita sebagai orang tua, telah diamanahkan oleh Allah untuk mendidik anak-anak kita. Maka hendaklah kita laksanakan Amanah tersebut dan mendidik anak kita dengan baik. Rasulullah menceritakan bahwa ada orangtua yang dimasukkan kedalam neraka karena tidak mau mendidik anaknya.

Beberapa pertemuan sebelumnya, sudah dibahas tentang Menanamkan Aqidah yang benar pada anak, kemudian Melatih anak untuk beribadah kepada Allah, Melatih Interaksi sosial pada anak, dan Menanamkan adab dan Akhlak mulia pada anak.

Pada pertemuan ini, akan dibahas tentang Membangun kecerdasan emosi sejak dini pada anak. Karena walaupun anak itu pintar, tetapi dia tidak bisa bergaul, tidak berempati, maka ia akan dijauhi dan ditinggalkan oleh orang lain.

Yang dimaksud kecerdasan emosional adalah: Kemampuan untuk memahami, mengelola dan menggunakan emosi diri sendiri serta emosi orang lain untuk meningkatkan kesehatan mental dan hubungan sosial.

Lantas apa ciri-ciri seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik?

  1. Dia bisa mengenali dan memahami perasaan diri sendiri begitu juga perasaan orang lain.
  2. Bisa mengelola emosi dengan baik sehingga dia mengekspresikan dengan cara yang paling tepat.
  3. Bisa merasakan perasaan orang lain (Bisa berempati).
  4. Memiliki keterampilan sosial yang baik. Artinya dia bisa menghadapi berbagai jenis karakter orang. Sehingga dia mudah bergaul dengan siapapun.
  5. Orang yang cerdas emosinya bisa memotivasi dirinya ketika dia mengalami kesedihan, kegagalan, sehingga dia bisa bangkit kembali.

Kemudian, bagaimana cara kita membentuk anak-anak kita agar memiliki kecerdasan emosional yang baik? Bagaimana Islam mengajarkan agar anak tumbuh dengan kecerdasan emosional yang baik?

  1. Memberikan ciuman, kelembutan dan kasih sayang kepada anak
    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

Artinya: “Barangsiapa yang tidak menyayangi, niscaya ia tidak akan disayangi.”

Ada seorang ahli berkata:
“Anak yang tumbuh dengan kasih sayang, maka dia akan menyayangi orang lain, sebaliknya anak yang tumbuh dengan kekerasan, maka dia akan kasar kepada orang lain.”

  1. Sempatkan untuk bermain dan bersenda gurau dengan anak
    Para sahabat menceritakan bahwa Rasulullah pernah bermain kuda kudaan dengan cucunya. Bahkan Rasulullah juga bermain dengan anak-anak para sahabat, padahal beliau adalah manusia yang paling mulia di muka bumi. Ini untuk membentuk jiwa yang segar, pribadi yang menyenangkan. Sehingga dia senang untuk bergaul dengan orang lain.
  2. Memberikan hadiah dan penghargaan kepada anak-anak
    Anak-anak selalu senang mendapat hadiah dan penghargaan, terlebih apabila ia melakukan sesuatu yang baik. Maka jangan kita pelit. Sehingga dia mudah mengapresiasi orang lain. Karena dia senantiasa diapresiasi oleh orangtuanya. Akan tetapi hendaklah bersikap adil dalam memberi hadiah, terutama jika memberi hadiah tanpa sebab.
  3. Mengusap kepala anak
    Para ulama menjelaskan, mengusap kepala anak memiliki efek psikologi yang luar biasa. Hal ini juga sangat dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Bahkan Rasulullah bersabda:
    “Kalau hati kalian sedang keras, hendaklah kau usap kepala anak Yatim.”
  4. Menyambut kedatangan anak
    Ketika mereka pulang sekolah, atau pulang bermain, hendaklah kita sambut. Sering kita dapati anak-anak yang cuek, karena memang merasa tidak ada yang menyambut mereka.
  5. Menanyakan keadaan anak
    Artinya mencari tahu bagaimana keadaan anak dan menanyakan keadaan mereka. Tanya bagaimana kabarnya, bagaimana keadaan sehari-hari nya, sehingga anak merasa keberadaannya diperhatikan oleh orangtuanya.
  6. Khusus untuk anak Yatim, mereka membutuhkan perhatian yang lebih karena mereka telah kehilangan figur ayah mereka.
  7. Berlaku adil terhadap anak-anak dalam perhatian, nafkah dan sebagainya
    Tidak melebihkan atau mengabaikan anak yang satu dari yang lain. Terlebih itu sangat dilihat oleh yang lainnya. Karen ini sangat berbahaya bagi kesehatan mental mereka. Walaupun dalam perasaan kita lebih mencintai satu anak ini karena keshalihannya, nurutnya. Tapi dalam mendidik harus ada keadilan didalamnya.

Tinggalkan Balasan