Bismillah walhamdulillah Kita bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Allah ﷻ atas karunia-Nya yang banyak sehingga kita bisa berjumpa dengan bulan mulia ini, dan juga atas taufiq-Nya kita dapat melaksakan ibadah-ibadah & amal shalih di bulan yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam kita haturkan kepada Nabi kita Muhammad ﷺ.
Alhamdulillah DKM Baiturrahman pada kesempatan kali ini kembali membuka kesempatan untuk kaum muslimin yang ingin memaksimalkan ibadah di 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini dengan Progam I’tikaf di Masjid Baiturrahman, dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung berlangsungnya i’tikaf seperti; lemari untuk barang-barang peserta i’tikaf, ifthor/takjil buka puasa bersama, dan menu buka serta sahurnya.
Kegiatan Dimulai pada 20 Ramadhan 1446 H. Kami menyambut kedatangan Peserta I’tikaf dan kemudian dilanjutkan dengan Briefing mengenai kegiatan I’tikaf setelah Shalat Tarawih. Kegiatan I’tikaf terdiri dari Kegiatan Pribadi seperti Qiyamul Lail, Tilawah Al-Qur’an dsb. Kami juga Menyiapkan beberapa Program yaitu: Tahsin dan Tahfizh Al-Qur’an, Kajian Subuh dan Menjelang berbuka Setiap Harinya dengan Mengundang Asatidzah Lokal dan Luar Daerah.
Kami sampaikan Jazakumullahu khairan kepada para muhsinin/donatur yang telah memberikan sedekahnya demi terlaksananya kegiatan-kegiatan selama bulan Ramadhan dengan baik. Semoga ALLAH ﷻ senantiasa memberikan keberkahan dan memudahkan segala urusan kita semua.
lhamdulillah dengan rahmat dan taufiq dari Allah kita berjumpa dengan bulan mulia yang penuh berkah ini, bulan Ramadhan bulan ampunan.
Rasulullah pernah bersabda, yang artinya; “Sebaik² kalian adalah yang mau belajar Alquran dan mengajarkannya”. Dan bulan Ramadhan adalah bulan mulia bulan yang terbaik.
Maka kita semua berusaha melakukan hal yang terbaik dalam momentum yang terbaik ini.
PROGAM/KEGIATAN DKM & TPQ Masjid Baiturraham mengadakan progam yang insyaAllah bermanfaat dalam bulan Ramadhan ini; SANLAT (Pesantren Kilat), mengajak anak-anak/santri-santriwati untuk mengisi momentum Ramadhan ini dengan hal-hal yang bermanfaat.
JUMLAH PESERTA & PEMBAGIAN KELOMPOK Alhamdulillah sekitar 100an santri/-wati yang berpartisipasi dalam progam ini. Dibagi menjadi 2 gelombang/kelompok; kelompok anak-anak & remaja.
Gelombang pertama adalah kelompok anak-anak yang terdiri dari kelas 3 sampai 5, progam SANLAT untuk kelompok ini pada tgl 6 – 8 Ramadhan. Sedangkan gelombang ke-2 kelompok remaja yang terdiri dari kelas 6 hingga kelas SMP bahkan SMA, untuk kelompok remaja kegiatan pada tgl 13 – 15 Ramadhan.
KEGIATAN Kegiatan pada SANLAT ini ialah sebagai berikut; Santri/-wati dalam sepekan hadir sebelum / waktu ashar dan kegiatan selesai setelah waktu maghrib (pulang).
-Setelah sholat ashar berjama’ah santri/-wati belajar mengaji (membaca iqro’ atau Alquran) sesuai tingkatan masing² anak. -Kemudian ada tugas menulis & menghafal surah² pendek Alquran (santri/-wati diberikan tugas menulis surah pendek beserta artinya kemudian menghafalnya dan disetorkan hafalan tersebut ke ustadz/pembimbing). -Lalu sesi ke-3 ialah; belajar & menghafal Hadit-Hadits Pilihan. -Berikutnya adalah ta’lim/kajian menjelang berbuka disertai kuis-kuis berhadiah. -Setelah itu berbuka puasa bersama, dan kegiatan SANLAT diakhiri dengan sholat maghrib berjamaah. Khusus untuk hari Sabtu para santri mengikuti Shalat Tarawih berjamaah di Masjid .
Semoga kegiatan/progam ini bermanfaat bagi siapa saja yang berpartisipasi dan mensupport untuk berlangsungnya kegiatan. Semoga Allah ‘azza wa jalla menerima amal ibadah kita semua di bulan Ramadhan ini, dan menjadikan kita semua hamba-hamba yang menang dan diridhoi.
Alhamdulillah pada kesempatan kali ini DKM Masjid Baiturrahman kembali mengadakan Kajian Parenting Wali Santri TPQ, pada kesempatan kali ini yang menyampaikan kajian adalah Ustadz Muhtadi Hafidzahullah, dengan tema “Taqwa Jalan Menuju Keselamatan“.
Tema ini diambil dari hadits Arbain ke 18, dari Sahabat Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal, Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan haditsnya itu hasan dalam sebagian naskah disebutkan bahwa hadits ini hasan shahih) [HR. Tirmidzi, no. 1987 dan Ahmad, 5:153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan]
Dalam hadits ini terkandung 3 pembahasan:
Perintah untuk bertaqwa kepada Allah dimana saja
Perintah untuk mengikutkan keburukan dengan Kebaikan
Perintah untuk berakhlak yang baik
Apa itu taqwa? Taqwa artinya menjaga diri dari sesuatu. Seperti seorang prajurit yang memakai tameng untuk melindungi diri dari serangan musuh. Jadi Taqwa itu kita melindungi diri kita dari adzab Allah dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan.
Taqwa itu memiliki permulaan, yaitu Iman. Taqwa juga memiliki Buah, yaitu Harapan atas Pahala dari Allah. Jadi setiap Amal yang tidak didasari keimanan maka tidak akan mendapatkan Pahala dari Allah.
Wasiat Taqwa adalah wasiat yang paling Agung. Allah perintahkan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali, kemudian Allah perintahkan kepada Hamba-Nya yang khusus yaitu orang yang beriman, Allah perintahkan pula kepada Para Nabi-Nya.
Maka hendaklah kita selalu meminta ketaqwaan kepada Allah, diantara nya dengan membaca doa:
“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.” Artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.
Kapan kita harus bertaqwa? Kapan saja, dan dimana saja. Baik sendiri, maupun di keramaian. Berapa banyak orang yang terlihat Sholeh di keramaian, tetapi hilang malunya di kesendiriannya. Terlebih di zaman sekarang ini.
Lantas bagaimana cara kita menjadi Hamba yang bertaqwa?
Senantiasa menambah Ilmu
Senantiasa menaati perintah dan menjauhi larangan Allah
Bergaul dengan Orang-orang Sholeh
Senantiasa merasa diawasi Allah
Lantas, apa ciri Orang yang bertaqwa? Allah sebutkan dalam QS. Ali Imran: 133-134 Allah Ta’ala berfirman :
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,”
“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”
Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya).
Ciri-ciri orang yang bertaqwa:
Orang yang senantiasa berinfak dikala lapang ataupun sempit
Orang yang sanggup menahan amarah bahkan memaafkan kesalahan orang yang menzholiminya
Orang yang jika berbuat kesalahan langsung bertaubat kepada Allah
Maka balasannya dari Allah adalah apa yang Allah sebutkan dalam Ayat berikutnya
Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. (Itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang mengerjakan (amal-amal saleh).
Berikut adalah rekaman kajian Parenting Bersama Ustadz Muhtadi Hafidzahullah
Alhamdulillah Kegiatan ASM kita kali ini dibersamai oleh kak Ihan, di kesempatan kali ini kak Ihan di awal-awal menyampaikan motivasi untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, karena banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita, dan juga memberi motivasi untuk semangat pergi ke masjid serta menceritakan begitu sulitnya saudara saudara kita di Palestina tetapi tetap semangat ke masjid.
Kemudian, Kak Ihan memberikan motivasi untuk semangat mengaji dan memberi Shalawat kepada Nabi Muhammad.
Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” [HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih].
Hadits ini menyebutkan tiga hal untuk mendapatkan ampunan :
Alhamdulillah, Pada hari Sabtu, 28 Desember 2024 ini, Kami mendapatkan kesempatan untuk mengadakan kajian Parenting bersama Ustadz Drs. Muhammad Ridjal, Psikolog dengan tema “Menanamkan Adab dan Akhlak Mulia pada Anak” yang diadakan di Masjid Baiturrahman LBE Salira.
Kajian ini dihadiri oleh para Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman & segenap pengajar ngaji di TPQ Masjid Baiturrahman.
Dalam mendidik anak itu memanglah harus komperhensif, sehingga anak itu menjadi seimbang. Jangan sampai anak hanya bagus salam satu sisi tetapi jelek dalam sisi lainnya.
Nah, pada kesempatan kali ini akan dibahas bagaimana mendidik Akhlak seorang anak. Karena banyak di zaman sekarang ini, anak-anak begitu tidak berakhlak. Maka penting bagi kita mempelajari adab dan akhlak Islam.
Para Ulama membedakan tentang adab dan Akhlak. Adab adalah etika berperilaku, bagaimana makan, minum, berbicara sesuai dengan ajaran Islam yang mulia.
Kepada siapakah dan Apa saja Adab yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita?
Alhamdulillah pada kesempatan kali ini DKM Masjid Baiturrahman kembali mengadakan kegiatan ASM (Anak Salira Mengaji), pada kesempatan kali ini yang menyampaikan kajian adalah Ustadz Iskandar Murseha Hafidzahullah, pada kesempatan kali ini kita mengangkat tema “Aku nggak mau ninggalin Shalat”.
Alhamdulillah anak-anak tampak antusias menyimak penjelasan yang disampaikan oleh Ustadz Iskandar Murseha Hafidzahullah, adapun ringkasan kajian yang beliau sampaikan adalah sebagai berikut:
Ibadah Shalat 5 waktu adalah satu-satunya amalan yang wajib dikerjakan tanpa adanya udzur sama sekali. Walaupun orang yang sakit, mereka tetap wajib shalat. Tidak ada alasan seseorang tidak mengerjakan ibadah shalat.
Maka hendaklah kita memperhatikan shalat kita, jangan kita menganggap enteng perintah shalat ini. Apabila seseorang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka ditakutkan ia telah jatuh kedalam kekafiran. Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda:
Perjanjian yang ada antara kami dengan mereka adalah shalat. Maka barangsiapa meninggalkannya, dia telah kafir. [HR. Tirmidzi]
Maka mereka yang meninggalkan shalat dengan sengaja, Allah telah siapkan hukuman di Akhirat, begitupula telah nampak adzan nya di dunia. Diantara nya:
Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja maka akan Allah hapus keshalihan dari wajahnya. Allah hitamkan wajahnya dikarenakan tidak pernah tersentuh air wudhu
Orang yang meninggalkan shalat maka akan dihapus keberkahan dari hartanya.
Orang yang meninggalkan shalat maka akan Allah akan berikan rasa sesak, rasa gelisah dalam dadanya.
Kajian ini dihadiri oleh anak-anak TPQ Masjid Baiturrahman dari desa Salira dan sekitarnya, ±100an peserta yang hadir pada acara ini, semoga ilmu yang di sampaikan oleh Ustadz Iskandar Murseha bermanfaat untuk anak-anak Salira, dan semoga bisa diamalkan.
Takwa merupakan wasiat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang pertama hingga yang terakhir. Takwa merupakan faktor yang menjadikan manusia dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Hakikat takwa, ialah kita mencari perisai yang bisa melindungi diri dari adzab Allah. Yaitu dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Apabila mampu berbuat demikian, maka kita akan menjadi orang yang bertakwa kepada Allah. Untuk itu, semestinya kita berhati-hati dalam bertindak, bersikap cermat dan berilmu tentang halal dan haram.
‘Umar bin Khaththab pernah bertanya kepada Abu Musa tentang hakikat takwa. Abu Musa menjawab: ”Wahai Amirul-Mukminin, apa yang akan engkau lakukan apabila engkau sedang berjalan di tempat yang penuh duri?”
Maka ‘Umar menjawab: ”Aku akan melihat kepada kakiku. Sehingga aku bisa mengetahui, apakah aku pijakkan di atas duri, ataukah di tempat yang aman”.
Inilah hakikat takwa, dengan selalu melihat setiap perbuatan kita, apakah termasuk perbuatan yang diridhai Allah Ta’ala, ataukah sebaliknya? Apabila termasuk perbuatan yang dibenci Allah, maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya. Jangan sampai Allah melihat kita berada dalam keadaan yang tidak Dia sukai.
Adapun ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya akan menjadi penyebab kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Allah berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. [al-Infithâr/82:13-14].
Al-abrâr (orang yang suka berbuat kebaikan), ia akan selalu dalam kenikmatan yang diberikan Allah di dunia maupun di akhirat. Adapun kaum fajir (orang yang suka berbuat kejahatan), maka mereka akan selalu berada dalam kesengsaraan di dunia dan akhirat.
Jadi, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat dengan 2 hal: Takwa kepada Allah, dan juga beramal shalih.
Allah menunjukkan kepada kita dua perkara agung. Barang siapa melaksanakan dua perkara ini, maka maka ia termasuk orang yang bertakwa.
Pertama, yaitu muhasabah. Yakni, hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.
Perkara penting kedua, yang Allah tunjukkan kepada kita, yaitu muroqobah. Yakni, sifat seseorang yang merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah di akhir ayat …. إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
Imam Ibnu al-Qayyim menjelaskan bahwa murâqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allâh Azza wa Jalla , merupakan asas bagi semua amalan hati dan merupakan tiang bagi semua amalan hati. Sikap tenang dan khusyu’ dalam menjalankan ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , berpangkal pada murâqabah ini. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadikan semua pokok dan semua cabang amalan hati terangkum pada satu kalimat (yang intinya adalah murâqabah), yaitu sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ “(Ihsan ialah) apabila engkau beribadah kepada Allâh seakan-akan engkau melihatNya. Maka apabila engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allâh melihatmu.”
Demikianlah, muroqobah merupakan hal penting yang sangat membantu seseorang untuk takwa kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat kepada Mu’adz bin Jabal dengan sabdanya: ”Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada..”
Berikut adalah rekaman Kajian Karyawan, 6 November 2024
Alhamdulillah, Pada hari Sabtu, 26 Oktober 2024 ini, Kami mendapatkan kesempatan untuk mengadakan kajian Parenting bersama Ustadz Drs. Muhammad Ridjal, Psikolog dengan tema “Mendidik Interaksi Sosial Pada Anak” yang diadakan di Masjid Baiturrahman LBE Salira.
Kajian ini dihadiri oleh para Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman & segenap pengajar ngaji di TPQ Masjid Baiturrahman.
Sebagai orangtua, hendaklah memperhatikan setiap sisi perkembangan anak. Bukan hanya kepintaran, tetapi hal hal lainnya juga harus diperhatikan. Bagaimana emosional nya, bagaimana sosialnya, bagaimana pola hidupnya, hendaklah diperhatikan. Sehingga segala aspek perkembangan anak itu menjadi baik. Jangan sampai anak itu pintar, tetapi menjadi penyendiri, sulit bergaul.
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
Lantas, bagaimana cara mendidik Interaksi sosial yang baik pada anak?
Dalam sebuah hadits dari Sahabat Anas bin Malik. Bahwasanya tatkala ia melewati seorang anak kecil, ia mengucapkan salam kepada anak tersebut, kemudian beliau berkata:
كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَفْعَلُهُ
“Nabi Shalallahu alaihi wasallam melakukannya.”
Maka inilah langkah pertama, yaitu menstimulasi anak untuk terbiasa mengucapkan salam. Kita memulai dengan mengucapkan salam terlebih dahulu, sehingga anak terbiasa merespon salam dan sapaan tersebut.
Kedua: Mengajak anak-anak kita untuk berinteraksi di komunitas orang tua. Sehingga anak akan melihat, bagaimana orang tuanya berinteraksi. Kemudian ia mempelajari bagaimana cara berinteraksi. Maka sebagai orangtua hendaklah memberi contoh yang baik.
Ketiga: Melatih anak-anak untuk menjadi utusan kita dalam melaksanakan suatu kebutuhan. Bukan berarti orangtua tersebut malas, akan tetapi melatih anak tersebut untuk berani dan bertanggungjawab.
Keempat: Memberitahu dan membiasakan anak untuk memulai sapaan dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.
Kelima: Hendaklah mengunjungi anak ketika sakit, doakan ia dan lebih utama berikanlah sesuatu. Karena anak akan merasakan rasa nyaman, rasa senang tatkala dikunjungi. Sehingga hal ini membangun empati dari anak agar tatkala temannya sakit, ia berinisiatif untuk mengunjungi nya, mendoakannya. Karena ia dilatih untuk merasakan perasaan orang lain.
Keenam: Mencarikan sahabat yang baik untuk anak-anaknya. Bagaimana caranya? Ada 3 cara:
Kita harus mencarikan lingkungan yang baik.
Mencarikan lingkungan sekolah yang baik untuk anak.
Kalau memang tidak bisa mencarikan lingkungan yang baik, hendaklah menciptakan lingkungan yang baik.
Ketujuh: Melatih anak-anak berinteraksi sosial dalam kegiatan ekonomi. Latih mereka untuk berjualan beli. Bukan untuk mencari uang, tetapi supaya mereka paham bagaimana jual beli yang baik, jual beli yang jujur. Ajarkan mereka adab berjualan yang baik, larangan dusta dan menipu tatkala berjualan.
Kedelapan: Mengajak anak-anak untuk menghadiri perayaan yang disyariatkan. Seperti Idul Fitri, Walimah. Sehingga mereka tau bagaimana kaum muslimin berinteraksi. Ajarkan kepada mereka bagaimana berinteraksi dalam lingkungan yang banyak manusia di dalamnya.
Kesembilan: Menginapkan anak di kerabat yang shalih keluarganya. Supaya anak belajar, bagaimana kehidupan islami di keluarga itu.
Berikut adalah rekaman kajian Parenting Bersama Ustadz Drs. Muhammad Ridjal, Psikolog.
Alhamdulillah pada kesempatan kali ini DKM Masjid Baiturrahman kembali mengadakan kegiatan ASM (Anak Salira Mengaji), pada kesempatan kali ini yang menyampaikan kajian adalah Ustadz Alfian Abu Syafiq,Lc. Hafidzahullah, pada kesempatan kali ini kita mengangkat tema “Akibat durhaka kepada Orangtua”.
Alhamdulillah anak-anak tampak antusias menyimak penjelasan yang disampaikan oleh Ustadz Alfian Abu Syafiq,Lc. Hafidzahullah, adapun ringkasan kajian yang beliau sampaikan adalah sebagai berikut: Surga adalah tempat yang begitu indah, didalamnya terdapat begitu banyak kenikmatan yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh seluruh manusia. Diantara salah satu cara yang paling mudah dan paling mulia untuk menuju surga adalah berbakti kepada Orang tua. Sebaliknya, neraka adalah tempat dimana Allah menghukum dan mengadzab orang-orang yang berdosa, dan diantara dosa yang paling besar adalah durhaka kepada orang tua. Bahkan di salah satu hadits, Rasulullah menempatkan dosa durhaka kepada orang tua tepat dibawah kesyirikan. Lantas, apakah yang dimaksud durhaka kepada Orang tua? Bisa jadi seseorang bahkan tidak menyadari kalau ia telah durhaka kepada kedua orangtuanya. Maka hendaklah ia menjauhi hal-hal yang dapat menyebabkan kedurhakaan dan berusaha berbakti kepada mereka. Diantanya adalah:
Menghiraukan panggilan orangtua Ada sebuah kisah, bahwa seorang Ulama sedang mengisi kajian, kemudian ibunya memanggil dengan suara yang keras, memerintahkan nya untuk memberi makan ayam. Maka tanpa alasan sang Alim itu langsung pergi memberi makan ayam kemudian baru melanjutkan kajian. Maka dari sini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa seseorang tidak boleh tidak menjawab panggilan orangtua nya, walaupun ia sedang dalam urusan penting, karena tidak menjawab adalah termasuk bentuk durhaka kepada Orangtua.
Membuat kedua orangtua marah Jangan sampai seorang anak membuat kedua orangtuanya marah. Jangan sampai pula membuat mereka bersedih dengan berkata buruk, terlebih sampai memukul. Hendaklah seorang anak senantiasa berbuat baik kepada orang tuanya. Allah berfirman: وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” Abdullah bin ’Umar radhiyallahu ’anhuma berkata,
إِبْكَاءُ الوَالِدَيْنِ مِنَ العُقُوْقِ
”Membuat orang tua menangis termasuk bentuk durhaka pada orang tua.”
Tidak mendoakan kedua orangtua Orangtua adalah manusia yang paling pantas untuk kita doakan,karena merekalah yang senantiasa berjasa kepada kita. Maka Hendaklah ia mendoakan kedua orangtuanya, diantara doa yang paling bagus adalah: رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani shaghira”
Selagi masih ada kesempatan untuk berbakti, hendaklah seorang anak berusaha semaksimal mungkin untuk berbakti kepada orangtuanya. Karena sungguh merugi mereka yang masih mendapati orangtuanya hidup, tetapi tidak masuk surga dengan sebab orangtuanya. Rasulullah bersabda: « رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ » “Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”(HR. Muslim)
Kajian ini dihadiri oleh anak-anak TPQ Masjid Baiturrahman dari desa Salira dan sekitarnya, ±130an peserta yang hadir pada acara ini, semoga ilmu yang di sampaikan oleh Ustadz Alfian Abu Syafiq bermanfaat untuk anak-anak Salira, dan semoga bisa diamalkan.