Kajian Bulan Juli 2025 | Karyawan LBE

Iman secara bahasa artinya adalah mempercayai. Sehingga iman secara bahasa itu berkaitan dengan hati. Adapun secara istilah, para ulama mendefinisikan bahwa iman adalah:

  1. Meyakini dengan hati
  2. Mengucapkan dengan lisan
  3. Beramal dengan anggota tubuhnya

Allah berfirman menjelaskan tentang orang yang beriman:

“اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ”

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal”

“الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ”

“(yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Dalam ayat ini Allah menjelaskan, bahwa Iman yang Allah inginkan adalah keimanan dalam hati, kemudian diamalkan dengan anggota tubuh. Maka orang yang beriman, tatkala iman telah tertancap didalamnya, niscaya lisan dan tubuhnya akan mengikuti hatinya.

Maka betapa penting bagi kita untuk menjaga keimanan kita, terlebih di zaman yang penuh fitnah ini.
Mengapa? Ada beberapa poin yang disampaikan oleh para ulama:

  1. Iman adalah asas kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.”

  1. Iman adalah syarat mutlak untuk masuk surga. Walaupun hanya setitik keimanan dalam hatinya, maka dia pasti akan masuk surga.
  2. Keimanan adalah sebab kesuksesan seseorang kelak di hari kiamat. Allah berfirman:

يَوۡمَ لَا يَنۡفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوۡنَۙ

“(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna,”

اِلَّا مَنۡ اَتَى اللّٰهَ بِقَلۡبٍ سَلِيۡمٍؕ‏

“kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,”

Siapa yang bisa menjamin kita meninggal dalam keadaan beriman kepada Allah? Maka hendaklah senantiasa kita menjaga keimanan kita. Nabi senantiasa berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR. Tirmidzi No. 3522)

Semoga Allah senantiasa mengokohkan hati kita diatas agama ini.

Rekaman kajian selengkapnya bisa klik disini

Tinggalkan Balasan