Arsip Kategori: Kajian Bulanan Karyawan

Items in the classic category have been created with the classic editor.

Kajian Bulan Januari 2025 | Karyawan LBE

عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  يَقُوْلُ :  قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً 

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.”  [HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih].

Hadits ini menyebutkan tiga hal untuk mendapatkan ampunan :

Lanjutkan membaca →

Kajian Bulan November 2024 | Karyawan LBE

Takwa merupakan wasiat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang pertama hingga yang terakhir. Takwa merupakan faktor yang menjadikan manusia dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Hakikat takwa, ialah kita mencari perisai yang bisa melindungi diri dari adzab Allah. Yaitu dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Apabila mampu berbuat demikian, maka kita akan menjadi orang yang bertakwa kepada Allah. Untuk itu, semestinya kita berhati-hati dalam bertindak, bersikap cermat dan berilmu tentang halal dan haram.

‘Umar bin Khaththab pernah bertanya kepada Abu Musa tentang hakikat takwa. Abu Musa menjawab: ”Wahai Amirul-Mukminin, apa yang akan engkau lakukan apabila engkau sedang berjalan di tempat yang penuh duri?”

Maka ‘Umar menjawab: ”Aku akan melihat kepada kakiku. Sehingga aku bisa mengetahui, apakah aku pijakkan di atas duri, ataukah di tempat yang aman”.

Inilah hakikat takwa, dengan selalu melihat setiap perbuatan kita, apakah termasuk perbuatan yang diridhai Allah Ta’ala, ataukah sebaliknya? Apabila termasuk perbuatan yang dibenci Allah, maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya. Jangan sampai Allah melihat kita berada dalam keadaan yang tidak Dia sukai.

Adapun ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya akan menjadi penyebab kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Allah berfirman:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ﴿١٣﴾وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. [al-Infithâr/82:13-14].

Al-abrâr (orang yang suka berbuat kebaikan), ia akan selalu dalam kenikmatan yang diberikan Allah di dunia maupun di akhirat. Adapun kaum fajir (orang yang suka berbuat kejahatan), maka mereka akan selalu berada dalam kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Jadi, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat dengan 2 hal: Takwa kepada Allah, dan juga beramal shalih.

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Allah menunjukkan kepada kita dua perkara agung. Barang siapa melaksanakan dua perkara ini, maka maka ia termasuk orang yang bertakwa.

Pertama, yaitu muhasabah. Yakni, hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.

Perkara penting kedua, yang Allah tunjukkan kepada kita, yaitu muroqobah. Yakni, sifat seseorang yang merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah di akhir ayat …. إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

Imam Ibnu al-Qayyim menjelaskan bahwa murâqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allâh Azza wa Jalla , merupakan asas bagi semua amalan hati dan merupakan tiang bagi semua amalan hati. Sikap tenang dan khusyu’ dalam menjalankan ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , berpangkal pada murâqabah ini. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadikan semua pokok dan semua cabang amalan hati terangkum pada satu kalimat (yang intinya adalah murâqabah), yaitu sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“(Ihsan ialah) apabila engkau beribadah kepada Allâh seakan-akan engkau melihatNya. Maka apabila engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allâh melihatmu.”

Demikianlah, muroqobah merupakan hal penting yang sangat membantu seseorang untuk takwa kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat kepada Mu’adz bin Jabal dengan sabdanya: ”Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada..”

Berikut adalah rekaman Kajian Karyawan, 6 November 2024

Kajian Bulan Agustus 2024 | Karyawan LBE

Seorang muslim yang bertauhid namun melakukan perbuatan dosa, kelak dia akan masuk surga selama tidak melakukan kesyirikan atau kafir. Akan tetapi dia harus mampir terlebih dahulu di neraka jahannam sampai waktu yang telah Allah Subhanahu wa ta ‘ala tentukan untuk membersihkan dosa-dosanya. Jika dosa-dosanya telah bersih, maka barulah dia dikeluarkan dari neraka dan di masukkan ke dalam surga. Semua itu terjadi karena surga tidak akan dimasuki oleh seseorang yang masih memiliki dosa.

Oleh karenanya penting bagi kita untuk mengenal perkara-perkara apa yang bisa menggugurkan dosa-dosa kita. Sehingga kelak kita bisa bertemu dengan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam keadaan dosa-dosa telah berguguran, dan Allah pun memasukkan kita ke dalam surga secara langsung. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memasukkan kita semua dalam surgaNya.

Diantara Sebab Penggugur Dosa adalah :

1. Taubat

Taubat adaalah perkara yang disepakati oleh kaum muslimin dapat mengugurkan dosa. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang’.” (QS. Az-Zumar : 53)

Tidak mungkin bagi seseorang menjalani kehidupannya tanpa dosa. Pasti seseorang pernah terjerumus dalam perbuatan dosa.

Oleh karenanya tatkala seseorang terjerumus ke dalam suatu perbuatan dosa, hendkanya dia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan juga hendaknya seseorang berhusnudzan kepada Allah bahwa pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

2. Istighfar

Ketahuilah bahwa orang-orang yang banyak beristighfar akan diberikan oleh Allah banyak kebaikan dari dunia maupun akhirat. Lihatlah balasan dunia bagi orang-orang yang senantiasa beristighfar dalam firman Allah Subahanhu wa ta’ala tentang perkataan Nabi Nuh ‘alaihissalam,

وا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (13)

“Maka aku (Nuh) berkata (kepada kaumnya), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?”. (QS. Nuh : 10-13)

Maka Sungguh beruntunglah orang-orang yang banyak beristighfar kepada Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا} سنن ابن ماجه (2/ 1254{(

“Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan didalam catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah 2/1254 no. 3818)

3. Amal Sholih

Kebaikan dan amal salih adalah di antara hal-hal yang dapat menggugurkan dosa-dosa. Di antara dalil yang menyebutkan hal ini adalah firman Allah Subahanahu wa ta’ala,

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (114)

“Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS. Hud : 114)

4. Musibah yang Allah timpakan kepadanya

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari 7/ 114 no. 5641)

5. Syafa’at dari Nabi di hari kiamat

Terlalu banyak dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi syafa’at kepada umatnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي

“Syafa’atku untuk ummatku yang berbuat dosa dosa besar.” (HR. Tirmidzi 4/625 no. 2436)

Akan tetapi perlu diketahui bahwa ada syarat seseorang untuk bisa mendapatkan syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu tidak boleh berbuat syirik. Oleh karenanya tatkala Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟ فَقَالَ: ” لَقَدْ ظَنَنْتُ، يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَنْ لاَ يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِه

“Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling beruntung dengan syafaatmu pada hari kiamat?” Nabi menjawab: “Hai Abu Hurairah, saya sudah beranggapan bahwa tak seorangpun lebih dahulu menanyakan masalah ini kepadaku daripada dirimu, dikarenakan kulihat semangatmu mencari hadits, Manusia yang paling beruntung dengan syafaatku pada hari kiamat adalah yang mengucapkan laa-ilaaha-illa-llaah, dengan tulus dari lubuk hatinya.” (HR. Bukhari 8/117 no. 6570)

6. Rahmat Allah kepada seorang Hamba

Sangat mudah bagi Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menggugurkan dosa seorang hamba secara tiba-tiba karena kasih sayang Allah kepada hambaNya. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30)

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”(QS. Asy-Syura : 30)

Ini menunjukkan bahwa tidak ada sebab khusus untuk Allah mengampuni kesalahan seorang hamba. Akan tetapi rahmat dan ampunan tersebut diberikan karena kasih sayang Allah kepada seorang hamba.

Kajian Bulan Maret 2024 | Karyawan LBE

Bekal Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang di tunggu oleh semua Muslim, sebagai seorang mu’min hendaklah kita menyambut Ramadhan kita dengan ilmu. Kenapa? Agar jangan sampai Kita melalui Ramadhan dengan tidak mendapat apa-apa.

Rasulullah mengingatkan dalam sabdanya:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

“Berapa banyak orang yang berpuasa, hanya mendapatkan dari puasanya rasa lapar dan haus saja, dan berapa banyak orang yang melakukan qiyamullail hanya mendapatkan dari qiyamullailnya terjaga (begadang) saja.”

Banyak yang puasa namun masih berdusta, masih menyia-nyiakan waktu nya, Rasulullah bersabda:

مَن لم يَدَعْ قول الزُّور والعملَ به والجهلَ، فليس للهِ حاجةٌ أن يَدَعَ طعامه وشرابه

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan amalan dusta, maka Allah tidak butuh dengan makanan dan minuman yang ditinggalkannya (puasa).”

Maka sungguh aneh seorang yang rela meninggalkan hal yang halal demi puasa namun masih mengerjakan yang Haram.

Maka bagaimana agar kita bisa memanfaatkan waktu kita agar bermanfaat selama Bulan Ramadhan? Diantaranya adalah:

  1. Berkhidmah membantu Ibu dan Bapaknya. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan kita untuk berbakti Kepada orangtua kita. Rasulullah bersabda:

رغم أنف، ثم رغم أنف، ثم رغم أنف من أدرك أبويه عند الكبر أحدُهما أو كلاهما فلم يدخل الجنة

“Celakalah seorang hamba, jika mendapati kedua atau salah satu orang tuanya masih hidup, namun keberadaan kedua orang tuanya tidak membuatnya masuk ke dalam surga”

  1. Menghadiri majelis-majelis Ilmu.
    Rasulullah bersabda:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

“Jika kamu melewati taman-taman Surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman Surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (majelis-majelis) Ilmu. “

  1. Membaca buku-buku Agama atau Majalah Islami.
    Allah berfirman:
    اقرأ وربك الاكرم

“Bacalah, Dan Tuhammu yang Maha Dermawan”

Bacalah, belajarlah Dan Allah yang akan memberikan Ilmu Kepada kita. Karena pintar itu tidak Wajib, yang Wajib adalah belajar.

  1. Mendengarkan kajian sunnah.
  2. Menyendiri Dan menangisi kesalahan.

Karena diantara 7 golongan yang Allah selamatkan pada beratnya hari Kiamat adalah mereka yang menyendiri mengingat Allah hingga menetes Air mata nya.

Kajian Bulan November 2023 | Karyawan LBE

6 Tahapan Setan Menyesatkan Manusia

Ada beberapa murid nabi yang keluar dari islam, disebabkan terlalu berlebihan dalam mengagungkan nabi, sehingga ketika nabi wafat, mereka tergoda tipuan syaithan hingga keluar dari islam.

Adapula seorang Ahli ibadah di zaman ibnu qayyim, nampak bekas bekas ibadah di wajahnya, seorang yang amat taat, dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah. Suatu hari, ia melihat wanita yang amat cantik, ia menyukai wanita itu begitupun sebaliknya. Akan tetapi wanita itu seorang nasrani, disinilah syaithan menggoda lelaki tersebut, hingga akhirnya ia keluar dari agama Islam.

Bahkan pada zaman dahulu ketika bekum ada elektronik dsb, betapa lihainya syaithan menggoda manusia, menjerumuskannya kedalam kesesatan hingga bahkan seorang yang ahli ibadah sekalipun terjerumus hingga mati dalam keadaan kafir. Allah abadikan sumpah syaithan dalam surah Al-A’raf ayat 17, tentang bagaimana syaithan akan menyesatkan manusia, dari segala arah, sampai tidak ada lagi manusia yang bersyukur.

Banyak diantara kita membayangkan syaithan adalah makhluk yang menyeramkan, akan tetapi syaithan sebenarnya adalah sifat, sifat sifat yang amat buruk, sehingga cara memerangi nya ialah dengan nasihat, ayat ayat dan hadits hadits. Oleh karena itu, iblis akan selalu menjerumuskan manusia kedalam kesesatan, hingga akhirnya masuk kedalam neraka. Diantaranya :

1. Syaithan akan menjerumuskan manusia kedalam kesyirikan,  melalui berbagai macam cara hingga akhirnya seorang keluar dari Islam.

2. Syaithan akan menggoda manusia agar menghiasi amalannya dengan hal hal yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah (Bid’ah).

3. Syaithan akan mengajak manusia melakukan dosa besar. Seperti Durhaka kepada orangtuanya, dan sebagainya.

4. Jika gagal, Syaithan akan mengajak manusia untuk melakukan dosa dosa kecil, hingga tertumpuk dosa itu menjadi sangat banyak.

5. Jika gagal dengan dosa kecil, maka syaithan akan menggoda manusia dengan Hal hal mubah, yang jika terlalu berlebihan akan membawa kepada hal yang diharamkan Allah. Misalnya : Seseorang mengobrol terlalu banyak hingga tak terasa lisannya mengatakan hal hal buruk (Ghibah).

6. Jika masih gagal dengan hal-hal, Syaithan akan mengajak manusia untuk menyingkirkan yg afdhol dan mengerjakan yang tidak Afdhol.

Contoh : Rasulullah bersabda “Jika sholat didirikan, maka tidak ada sholat kecuali yang fardhu” Maka jika iqomah dikumandangkan hendaknya seseorang memutus sholat sunnah nya dan bersegera melaksanakan sholat wajib.

Contoh lainnya, ketika imam sudah ruku’, ia malah sibuk bersiwak. Bersiwak adalah hal yang sunnah, akan tetapi hal yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah.

Kajian Bulan Oktober 2023 Karyawan LBE

Karakter Penghuni Surga

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh…
Kita semua pasti bercita-cita ingin masuk surga, bukan hanya orang-orang sholih saja.Bahkan para nabi juga demikian sebagaimana do’a nabi Ibrohim alaihisaalam yg Allah تعالى abadikan dalam Al Quran :

وَٱجْعَلْنِى مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ

Artinya: ”Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan” (Q.S as syuara 85)
Begitupula dengan Nabi kita Muhammad صل الله عليه dalam banyak do’anya meminta surga :
اللهم إني أسألك الجنة

Artinya : “Ya allah sesungguhnya aku memohon surga”
Nabi Muhammad juga menganjurkan kepada kita untuk meminta surga yg paling tinggi sebagaimana sabdanya :

فإذا سألتم الله فاسألواه الفردوس فإنه أوسط الجنة وأعلى الجنة

Artinya : “Apabila km meminta kepada Allah maka mintalah surga firdaus, karena ia termasuk surga paling tengah Dan paling tinggi”
Kerinduan seorang mukminn dengan surga adalah tabiat dalam kehidupan dunia ini.Oleh Karen itu, Allah menjadikan kehidupan dunia terkontamisi degan rasa sedih,kecewa,galau, khawatir dll.Sejak Allah turunkan nenek moyang kita Nabi Adam dan Siti Hawa dari surga Allah berfirman :

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى (۱۱۷)
“Kemudian kami berfirman,”Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti kamu celaka” (Q.s taha 117)

Ini berarti dahulu tatkala nabi Adam dan Siti Hawa masih di surga diliputi degan kenikmatan yg luar biasa sebagaimana firaman Allah تعالى :

إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى (۱۱۸) وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى (۱۱۹)
“Sungguh ada (jaminan) untukmu di sana, engkau tidak kelaparan dan tidak akan telanjang. Dan sungguh di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas maThahari”(Qs.taha 118-119)

Intinya di surga kemana mata memandang itu kita akan melihat kenikmatan demi kenikmatan, Allah berfirman :

وَاِذَا رَاَيْتَ ثَمَّ رَاَيْتَ نَعِيْمًا وَّمُلْكًا كَبِيْرًا
Artinya: ”Dan apabila engkau melihat (keadaan) di sana (surga), niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar”.(Q.s Al insan 20)

Lantas bagaimna kriteria penghuni surga yg dijanjikan oleh Allah? kita akan membahsanya sesuai dengan firaman Allah dalam surah Ali Imran ayat 133-136 Allah berfirman :

۞ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135)أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)

Artinya: ‘‘Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.(133) yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.(134) Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendzalimi diri sendiri, ia segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.(135) Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal”. (136)

Pada ayat pertama Allah mengatakan ” و سارعوا” yakni ” bersegeralah” pada surah yang lain Allah juga mengatakan “وسابقوا” “berlombalah” Dan Allah juga mengatakan “وفى ذالك فليتنافس المتنافسون” “Dan dalam (nikmat surga) tersebut hendaknya kalian bersainglah”.Ini menunjukkan bahwa Allah menyuruh kita agar tidak menunda” kebaikan bahkan ada sebagian ulama yg mengatakan bahwa barangsiapa yg menunda-nunda taubat apabila mengerjkan dosa Maka akan ada dosa tersendiri .Dan surga yangg luasnya seluas langit dan bumi , ada ulama yg mengatakan apabila ada “عرض/lebar” pasti ada ” طول/panjang ” ini menunjukkan luasnya surga Allah . “Dipersiapkan bagi orang-orang yg bertaqwa” ini meruapakan dalil bahwasanya surga itu telah ada berbeda dengan pendapat muktazilah yg mengatakan bahwa surga itu blm ada.

Dalam ayat ke 134-135 Allah sebutkan KARAKTER PENGHUNI SURGA :

1.Orang yg senantiasa menginfakkan haratanya baik dalam keadaan susah maupun senang.

Ayat diatas menunjukkan ada beberapa model orang ketika berinfak Berinfak waktu senang dan tdk berinfaq waktu susah, ini banyak Tdk berinfaq waktu senang apalagi waktu susah, dan ini lebih banyak lagi_Tdk berinfaq baik waktu senang maupun susah Ketiga model diatas bukanlah yg dimaksd ayat tersebut melainkan orang-orang yg senantiasa berinfaq waktu susah Dan senang inilah yg dimaksd ayat tersebut.

2.Orang-orang yg menahan diri dari amarah. Dalam sebuah tafsir dikatakan الكظم : شد فم القربة عند امتلائها Al kazm : “menutup mulut qirbah ( tempat minum yg terbuat dari kulit hewan) tatkala ia penuh”Dan Al bagawi dalam tafsirnya juga mengatalan :حبس الشيء عند امتلائها”Yakni mengikat sesuatu tatkala penuh”Dan yg dimaksd dlm ayat “kaziminal ghoiz adalah Menahan diri dari amarah tatkala amarah tersebut udah meluap padahl dia bisa saja melampiaskanya .Inilah yg dimaksd dlm ayat tersebut dan Allah mengunakan ism fail yg berarti Hal tersebut dilalukan secara terus menerus dan kokoh.

3.Senantiasa memaafkan orang lain Ada sebuah kisah Dari pemuda ansor yg dijuluki penghuni surga oleh Rasullullah.Kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang kemudian diterjemahkan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin Jilid 7. Saat itu, Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam tengah duduk-duduk di Masjid Nabawi dengan para sahabat rasul lainnya, termasuk Abdullah bin Amr bin Ash.Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Akan muncul sekarang ini seorang penghuni surga lewat di jalan ini.”Semua mata pun tertuju pada pintu masjid dan pikiran para sahabat membayangkan sosok yang luar biasa. Lalu, muncullah seorang lelaki dari kaum Anshar yang melewati jalan tersebut. Ia lewat dengan wajah yang basah akibat air wudhu. Apakah keistimewaan dari seseorang tersebut yang mendapat jaminan surga? Namun, tidak ada seorang pun dari kalangan sahabat itu melontarkannya pada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam

Keesokan harinya, peristiwa serupa terulang lagi. Rasulullah menyebut ada sosok penghuni surga yang akan melewati jalanan di dekat mereka. Dan lagi-lagi, lelaki dari kaum Anshar itu pun muncul.

Peristiwa serupa terus berulang hingga ketiga kalinya. Putra gubernur muslim pertama di Mesir, Abdullah bin Amr bin Ash pun tidak tahan lagi dan ia pun memilih untuk mencari tahu rahasia amalan yang dilakukan oleh lelaki Anshar tersebut hingga sampai tiga kali Rasulullah menyebutnya sebagai penghuni surga.

Abdullah bin Amr bin Ash pun berpura-pura bertengkar dengan ayahnya. Setelahnya, ia meminta izin untuk tinggal selama beberapa hari di rumah lelaki Anshar tersebut.

Singkat cerita, Abdullah bin Amr bin Ash mencoba memerhatikan keseharian lelaki Anshar itu untuk mengetahui amal sholeh yang ia lakukan. Namun, Amr bin Ash tidak menemukan suatu amalan luar biasa yang dilakukannya.

Laki-laki Anshar itu tidak mengamalkan sholat malam dengan jumlah rakaat banyak di sepertiga malam. Ataupun, lelaki itu bangun tepat menjelang Subuh sehingga tidak banyak amalan sholat malam yang dilakukannya.

Hingga di penghujung hari ketiga tidak menemukan apapun, Abdullah bin Amr bin Ash pun hendak berterus terang pada lelaki itu dan berniat untuk menanyakannya langsung. Abdullah bin Amr bin Ash pun berkata:”Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran dan tidak saling menyapa antara aku dan ayahku. Aku sengaja menginap di rumahmu karena mendengar Rasul berkata tentang dirimu sebanyak tiga kali bahwa engkau adalah laki-laki penghuni surga. Maka, aku pun ingin bersamamu agar bisa melihat bagaimana amalanmu hingga engkau dikatakan sebagai laki-laki penghuni surga. Kalau aku sudah tahu, nanti aku akan menirumu. Tetapi, engkau ternyata tidak terlalu banyak beramal. Amalan apakah yang membuat ia mendapat kedudukan yang mulia itu (ahli surga)?”

Lelaki Anshar itu pun menjawab bahwa ia tidak memiliki amalan kecuali yang telah dilihat langsung oleh Abdullah bin Amr bin Ash. Kemudian ia berkata lagi, “Aku tidak pernah dengki kepada kaum muslim karena kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepadanya.”

Mendengar hal itu, Abdullah bin Amr bin Ash tertegun dan berkata, “Itulah amalan yang telah menyampaikanmu pada derajat yang paling tinggi, sungguh berat kami lakukan.
4.Orang yg melalukan perbuatan keji atau menzolomi dirinya kemudian ia ingat kepada Allah dan memohon ampun kepadanya .
Inilah 4 KARAKTER PENGHUNI SURGA yg Allah beritakan kepada kita semoga kita termasuk dari golongan tersebut,
Aamiin allahumma aamiin..
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Kajian Bulan September 2023 Karyawan LBE

Tema : Hikmah Kisah Juraij Sang Ahli Ibadah

Kisah ini dikenal dengan kisah Juraij. Di dalamnya dikisahkan anak yang tidak mau mendengar panggilan orang tua padahal ia sedang shalat sunnah. Dan disebutkan mengenai bayi yang bisa berbicara saat dalam momongan. Dari Abu Hurairah, ia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada bayi yang dapat berbicara dalam buaian kecuali Isa bin Maryam dan (bayi di masa) Juraij” Lalu ada yang bertanya,”Wahai Rasulullah siapakah Juraij?” Beliau lalu bersabda, ”Juraij adalah seorang rahib yang berdiam diri pada rumah peribadatannya (yang terletak di dataran tinggi/gunung). Terdapat seorang penggembala yang menggembalakan sapinya di lereng gunung tempat peribadatannya dan seorang wanita dari suatu desa menemui penggembala itu (untuk berbuat mesum dengannya).(Suatu ketika) datanglah ibu Juraij dan memanggil anaknya (Juraij) ketika ia sedang melaksanakan shalat, ”Wahai Juraij.” Juraij lalu bertanya dalam hatinya, ”Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya. Juraij kembali bertanya di dalam hati, ”Ibuku atau shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, ”lbuku atau shalatku?” Rupanya dia tetap mengutamakan shalatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata, “Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur.” Lalu ibunya pun pergi meninggalkannya.Wanita yang menemui penggembala tadi dibawa menghadap raja dalam keadaan telah melahirkan seorang anak. Raja itu bertanya kepada wanita tersebut, ”Hasil dari (hubungan dengan) siapa (anak ini)?” “Dari Juraij”, jawab wanita itu. Raja lalu bertanya lagi, “Apakah dia yang tinggal di tempat peribadatan itu?” “Benar”, jawab wanita itu. Raja berkata, ”Hancurkan rumah peribadatannya dan bawa dia kemari.” Orang-orang lalu menghancurkan tempat peribadatannya dengan kapak sampai rata dan mengikatkan tangannya di lehernya dengan tali lalu membawanya menghadap raja. Di tengah perjalanan Juraij dilewatkan di hadapan para pelacur. Ketika melihatnya Juraij tersenyum dan para pelacur tersebut melihat Juraij yang berada di antara manusia.Raja lalu bertanya padanya, “Siapa ini menurutmu?” Juraij balik bertanya, “Siapa yang engkau maksud?” Raja berkata, “Dia (wanita tadi) berkata bahwa anaknya adalah hasil hubungan denganmu.” Juraij bertanya, “Apakah engkau telah berkata begitu?” “Benar”, jawab wanita itu. Juraij lalu bertanya, ”Di mana bayi itu?” Orang-orang lalu menjawab, “(Itu) di pangkuan (ibu)nya.” Juraij lalu menemuinya dan bertanya pada bayi itu, ”Siapa ayahmu?” Bayi itu menjawab, “Ayahku si penggembala sapi.”Kontan sang raja berkata, “Apakah perlu kami bangun kembali rumah ibadahmu dengan bahan dari emas?” Juraij menjawab, “Tidak perlu”. “Ataukah dari perak?” lanjut sang raja. “Jangan”, jawab Juraij. “Lalu dari apa kami akan bangun rumah ibadahmu?”, tanya sang raja. Juraij menjawab, “Bangunlah seperti sedia kala.” Raja lalu bertanya, “Mengapa engkau tersenyum?” Juraij menjawab, “(Saya tertawa) karena suatu perkara yang telah aku ketahui, yaitu terkabulnya do’a ibuku terhadap diriku.” Kemudian Juraij pun memberitahukan hal itu kepada mereka.”(Disebutkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod) [Dikeluarkan pula oleh Bukhari: 60-Kitab Al Anbiyaa, 48-Bab ”Wadzkur fil kitabi Maryam”. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 7-8]

Pelajaran dari Kisah Juraij

1- Hadits ini menunjukkan keutamaan orang berilmu dibanding ahli ibadah. Seandainya Juraij seorang alim (yang berilmu), maka tentu ia akan lebih memilih untuk menjawab panggilan ibunya dibanding melanjutkan shalat.

2- Seorang anak harus berhati-hati dengan kemarahan orang tuanya. Karena jika ia sampai membuat orang tua marah dan orang tua mendoakan jelek, maka itu adalah do’a yang mudah diijabahi. Ia tahu akan hal itu, sehingga membuatnya tersenyum.

3- Bukti do’a jelek dari ibu terkabul karena Juraij akhirnya dipertontonkan di hadapan wanita pelacur sebagaimana do’a ibunya.

4- Berbakti pada orang tua adalah akhlak mulia, lebih-lebih bakti pada ibu.

5- Juraij menunjukkan sikap yang benar ketika menghadapi masalah yaitu harus yakin akan pertolongan Allah.

6- Zuhudnya Juraij karena hanya meminta tempat ibadahnya dibangun seperti sedia kala. Ia tidak minta diganti dengan emas atau perak.

7- Ketika musibah menimpa, barulah orang ingat akan dosa, ada juga yang mengingat akan do’a jelek yang menimpa dirinya seperti dalam kisah Juraij ini.

8- Bakti pada orang tua adalah wajib, termasuk di antaranya adalah memenuhi panggilannya. Sedangkan shalat sunnah hukumnya sunnah, artinya berada di bawah bakti pada ortu.

9- Do’a ibu Juraij tidak berlebihan yaitu tidak sampai mendoakan Juraij terjerumus dalam perbuatan keji (zina). Ia hanya do’akan agar Juraij dipertontonkan di hadapan para pelacur, tidak lebih dari itu.

10- Tawakkal dan keyakinan yang tinggi pada Allah akan membuat seseorang keluar dari musibah.

11- Jika ada dua perkara yang sama-sama penting, maka dahulukan perkara yang paling penting. Seperti ketika bertabrakan antara memenuhi panggilan ibu ataukah shalat sunnah, maka jawabnya, memenuhi panggilan ibu.

12- Allah selalu memberikan jalan keluar (jalan kemudahan) bagi para wali-Nya dalam kesulitan mereka.

13- Hadits ini menunjukkan adanya karomah wali, berbeda halnya dengan Mu’tazilah yang menolak adanya karomah tersebut.

Hanya Allah yang memberi taufik pada ilmu dan amal.

Kajian Bulan Februari 2023 Karyawan PT. LBE

Tema: Orang-orang yang didoakan oleh malaikat

Adalah suatu kemuliaan apabila di dalam suatu pertemuan penting misalkan di dalam suatu acara pertemuan pejabat penting di suatu negara, nama kita disebut di dalam pertemuan tersebut tentunya kita akan senang dan bangga. Begitu juga nama kita disebut serta didoakan oleh makhluk yang mulia untuk didoakan kebaikan kepada Allah subhanahu wata’ala tentunya kita akan senang.

Berikut ini adalah amalan-amalan menyebabkan kita akan didoakan oleh malaikat, diantaranya adalah:

Lanjutkan membaca →