Arsip Kategori: Kajian Wali Santri

Kajian khusus Wali Santri bertema Umum

Kajian Bulan Februari 2025 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah pada kesempatan kali ini DKM Masjid Baiturrahman kembali mengadakan Kajian Parenting Wali Santri TPQ, pada kesempatan kali ini yang menyampaikan kajian adalah Ustadz Muhtadi Hafidzahullah, dengan tema “Taqwa Jalan Menuju Keselamatan“.

Tema ini diambil dari hadits Arbain ke 18, dari Sahabat Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal, Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Hadits Ke-18

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan haditsnya itu hasan dalam sebagian naskah disebutkan bahwa hadits ini hasan shahih) [HR. Tirmidzi, no. 1987 dan Ahmad, 5:153. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan]

Dalam hadits ini terkandung 3 pembahasan:

  1. Perintah untuk bertaqwa kepada Allah dimana saja
  2. Perintah untuk mengikutkan keburukan dengan Kebaikan
  3. Perintah untuk berakhlak yang baik

Apa itu taqwa?
Taqwa artinya menjaga diri dari sesuatu. Seperti seorang prajurit yang memakai tameng untuk melindungi diri dari serangan musuh. Jadi Taqwa itu kita melindungi diri kita dari adzab Allah dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan.

Taqwa itu memiliki permulaan, yaitu Iman. Taqwa juga memiliki Buah, yaitu Harapan atas Pahala dari Allah. Jadi setiap Amal yang tidak didasari keimanan maka tidak akan mendapatkan Pahala dari Allah.

Wasiat Taqwa adalah wasiat yang paling Agung. Allah perintahkan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali, kemudian Allah perintahkan kepada Hamba-Nya yang khusus yaitu orang yang beriman, Allah perintahkan pula kepada Para Nabi-Nya.

Maka hendaklah kita selalu meminta ketaqwaan kepada Allah, diantara nya dengan membaca doa:

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.” Artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.

Kapan kita harus bertaqwa?
Kapan saja, dan dimana saja. Baik sendiri, maupun di keramaian. Berapa banyak orang yang terlihat Sholeh di keramaian, tetapi hilang malunya di kesendiriannya. Terlebih di zaman sekarang ini.

Lantas bagaimana cara kita menjadi Hamba yang bertaqwa?

  1. Senantiasa menambah Ilmu
  2. Senantiasa menaati perintah dan menjauhi larangan Allah
  3. Bergaul dengan Orang-orang Sholeh
  4. Senantiasa merasa diawasi Allah

Lantas, apa ciri Orang yang bertaqwa?
Allah sebutkan dalam QS. Ali Imran: 133-134
Allah Ta’ala berfirman :

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,”

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya).

Ciri-ciri orang yang bertaqwa:

  1. Orang yang senantiasa berinfak dikala lapang ataupun sempit
  2. Orang yang sanggup menahan amarah bahkan memaafkan kesalahan orang yang menzholiminya
  3. Orang yang jika berbuat kesalahan langsung bertaubat kepada Allah

Maka balasannya dari Allah adalah apa yang Allah sebutkan dalam Ayat berikutnya

اُولٰۤىِٕكَ جَزَاۤؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ وَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَۗ

Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. (Itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang mengerjakan (amal-amal saleh).

Berikut adalah rekaman kajian Parenting Bersama Ustadz Muhtadi Hafidzahullah

Kajian Parenting Bulan Desember 2024 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah, Pada hari Sabtu, 28 Desember 2024 ini, Kami mendapatkan kesempatan untuk mengadakan kajian Parenting bersama Ustadz Drs. Muhammad Ridjal, Psikolog dengan tema “Menanamkan Adab dan Akhlak Mulia pada Anak” yang diadakan di Masjid Baiturrahman LBE Salira.

Kajian ini dihadiri oleh para Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman & segenap pengajar ngaji di TPQ Masjid Baiturrahman.

Dalam mendidik anak itu memanglah harus komperhensif, sehingga anak itu menjadi seimbang. Jangan sampai anak hanya bagus salam satu sisi tetapi jelek dalam sisi lainnya.

Nah, pada kesempatan kali ini akan dibahas bagaimana mendidik Akhlak seorang anak. Karena banyak di zaman sekarang ini, anak-anak begitu tidak berakhlak. Maka penting bagi kita mempelajari adab dan akhlak Islam.

Para Ulama membedakan tentang adab dan Akhlak. Adab adalah etika berperilaku, bagaimana makan, minum, berbicara sesuai dengan ajaran Islam yang mulia.

Kepada siapakah dan Apa saja Adab yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita?

Lanjutkan membaca →

Kajian Parenting Bulan Oktober 2024 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah, Pada hari Sabtu, 26 Oktober 2024 ini, Kami mendapatkan kesempatan untuk mengadakan kajian Parenting bersama Ustadz Drs. Muhammad Ridjal, Psikolog dengan tema “Mendidik Interaksi Sosial Pada Anak” yang diadakan di Masjid Baiturrahman LBE Salira.

Kajian ini dihadiri oleh para Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman & segenap pengajar ngaji di TPQ Masjid Baiturrahman.

Sebagai orangtua, hendaklah memperhatikan setiap sisi perkembangan anak. Bukan hanya kepintaran, tetapi hal hal lainnya juga harus diperhatikan. Bagaimana emosional nya, bagaimana sosialnya, bagaimana pola hidupnya, hendaklah diperhatikan. Sehingga segala aspek perkembangan anak itu menjadi baik. Jangan sampai anak itu pintar, tetapi menjadi penyendiri, sulit bergaul.

Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Lantas, bagaimana cara mendidik Interaksi sosial yang baik pada anak?

Dalam sebuah hadits dari Sahabat Anas bin Malik. Bahwasanya tatkala ia melewati seorang anak kecil, ia mengucapkan salam kepada anak tersebut, kemudian beliau berkata:

كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَفْعَلُهُ

“Nabi Shalallahu alaihi wasallam melakukannya.”

Maka inilah langkah pertama, yaitu menstimulasi anak untuk terbiasa mengucapkan salam. Kita memulai dengan mengucapkan salam terlebih dahulu, sehingga anak terbiasa merespon salam dan sapaan tersebut.

Kedua: Mengajak anak-anak kita untuk berinteraksi di komunitas orang tua. Sehingga anak akan melihat, bagaimana orang tuanya berinteraksi. Kemudian ia mempelajari bagaimana cara berinteraksi. Maka sebagai orangtua hendaklah memberi contoh yang baik.

Ketiga: Melatih anak-anak untuk menjadi utusan kita dalam melaksanakan suatu kebutuhan. Bukan berarti orangtua tersebut malas, akan tetapi melatih anak tersebut untuk berani dan bertanggungjawab.

Keempat: Memberitahu dan membiasakan anak untuk memulai sapaan dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.

Kelima: Hendaklah mengunjungi anak ketika sakit, doakan ia dan lebih utama berikanlah sesuatu. Karena anak akan merasakan rasa nyaman, rasa senang tatkala dikunjungi. Sehingga hal ini membangun empati dari anak agar tatkala temannya sakit, ia berinisiatif untuk mengunjungi nya, mendoakannya. Karena ia dilatih untuk merasakan perasaan orang lain.

Keenam: Mencarikan sahabat yang baik untuk anak-anaknya. Bagaimana caranya?
Ada 3 cara:

  1. Kita harus mencarikan lingkungan yang baik.
  2. Mencarikan lingkungan sekolah yang baik untuk anak.
  3. Kalau memang tidak bisa mencarikan lingkungan yang baik, hendaklah menciptakan lingkungan yang baik.

Ketujuh: Melatih anak-anak berinteraksi sosial dalam kegiatan ekonomi. Latih mereka untuk berjualan beli. Bukan untuk mencari uang, tetapi supaya mereka paham bagaimana jual beli yang baik, jual beli yang jujur. Ajarkan mereka adab berjualan yang baik, larangan dusta dan menipu tatkala berjualan.

Kedelapan: Mengajak anak-anak untuk menghadiri perayaan yang disyariatkan. Seperti Idul Fitri, Walimah. Sehingga mereka tau bagaimana kaum muslimin berinteraksi. Ajarkan kepada mereka bagaimana berinteraksi dalam lingkungan yang banyak manusia di dalamnya.

Kesembilan: Menginapkan anak di kerabat yang shalih keluarganya. Supaya anak belajar, bagaimana kehidupan islami di keluarga itu.

Berikut adalah rekaman kajian Parenting Bersama Ustadz Drs. Muhammad Ridjal, Psikolog.

Kajian Bulan Agustus 2024 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah pada kesempatan kali ini DKM Masjid Baiturrahman kembali mengadakan Kajian Parenting Wali Santri TPQ, pada kesempatan kali ini yang menyampaikan kajian adalah Ustadz Muhammad Ridjal Hafidzahullah, dengan tema “Melatih Anak untuk Beribadah kepada Allah“.


Setelah kita mengajarkan kepada anak-anak kita Aqidah yang benar, Mengajarkan tentang Siapakah Allah, Maka hendaklah kita melanjutkan nya dengan mengajarkan bagaimana Menyembah Allah dengan sebenar-benarnya. Allah Ta’ala berfirman:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”

Maka bagaimana cara kita melatih anak-anak kita untuk beribadah kepada Allah?

  1. Jika Anak kita belum mencapai 7 Tahun, maka latih mereka beribadah dengan memberikan contoh kepada mereka. Perkenalkan mereka dengan ibadah, Ajak anak-anak kita ke masjid, tunjukkan bagaimana cara Shalat. Demikian pula ibadah lainnya. Tunjukkanlah cara beribadah yang benar sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah.
  2. Ketika anak baru belajar beribadah, hendaklah kita memberikan motivasi, berikan mereka hadiah jika ia menjalankannya dengan baik, dan jangan langsung menghukumnya jika mereka salah, nasehati lah dengan baik. Jika masih dengan sengaja membuat kesalahan, peringatkan, kalau masih tidak bisa, ancamlah ia dengan pukulan, kemudian jika memang harus dipukul, pukullah dengan baik, dengan tujuan menasehati, bukan didasari emosi. Adapun memukul itu memiliki kaidahnya tersendiri:
  • Tidak boleh memukul sebelum usia 10 Tahun
  • Tidak boleh memukul dengan alat yang terlalu keras
  • Tidak boleh memukul di satu tempat saja
  • Tidak boleh memukul sampai terlihat ketiak
  • Tidak boleh memukul kepala dan kemaluan
  • Tidak boleh memukul dalam keadaan marah
  • Tidak boleh memukul lebih dari 10 kali
  • Hentikan memukul ketika anak menyebut nama Allah

3. Kemudian setelah mereka sudah terbiasa dengan ibadah fardhu, ajari mereka untuk menambah nya dengan ibadah-ibadah Sunnah. Jika mereka sudah terbiasa shalat Fardhu, ajari mereka shalat Nafilah. Ajari mereka shalat malam. Begitupula amalan yang lainnya. Akan tetapi, jangan memaksa anak untuk ibadah Sunnah, hendaklah kita motivasi, berikan penghargaan atas ibadah Sunnah yang mereka lakukan. Sehingga ketika memasuki usia Baligh, ketika catatan Amal mereka dibuka, mereka sudah terbiasa dan tertib shalatnya dan juga ibadah lainnya.

Kajian Bulan Mei 2024 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah pada kesempatan kali ini DKM Masjid Baiturrahman kembali mengadakan Kajian Parenting Wali Santri TPQ, pada kesempatan kali ini yang menyampaikan kajian adalah Ustadz Muhtadi Hafidzahullah, dengan tema “Bagaimana Adab Islam kepada Tetangga“.

Manusia adalah makhluk sosial, yang artinya manusia pasti akan berinteraksi dengan sesamanya, termasuk kepada tetangga. Islam sebagai Agama yang sempurna, mengatur setiap sendi kehidupan kita, termasuk bagaimana seharusnya kita bertetangga. Bahkan Rasulullah menggandengkan perintah memuliakan tetangga ini dengan Iman kepada Allah. Rasulullah bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”

Maka diantara adab yang diajarkan Rasulullah tentang bagaimana kita harus bertetangga adalah:

  1. Memilih tetangga yang sholeh
    Jika kita ingin pindah ke lingkungan yang baru, hendaklah kita memilih lingkungan yang baik, yang ingat kepada Allah dan baik kepada sesama.
  2. Mencintai untuk tetangganya apa-apa yang disukai untuk dirinya dari kebaikan. Rasulullah bersabda:

وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِه مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba dikatakan beriman (dengan iman yang sempurna) hingga ia mencintai tetangganya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

  1. Tidak menyakiti tetangga dengan cara apapun, baik perkataan, ataupun perbuatan.
  2. Senantiasa berbuat baik kepada tetangga kita.
  3. Berusaha bersabar atas keburukan tetangga kita.
  4. Memberi tetangga kita makanan tatkala kita memasak terutama jika tetangga kita fakir.

Rasulullah bersabda:

ليس المؤمن الذي يشبع وجاره جائع إلى جنبه

“Bukanlah seorang mu’min, seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sisinya.”

  1. Membantu tetangga kita jika mereka membutuhkan.
  2. Berempati dalam gembira maupun sedihnya. Tatkala mereka gembira kita turut bersuka cita. Tatkala mereka sedih kita juga merasakan kesedihannya.
  3. Tidak menghalangi tetangganya meletakkan sesuatu di sisi rumah kita, selama tidak mengganggu.
  4. Menjaga kehormatan tetangga kita dan tidak berkhianat tetangga kita. Rasulullah bersabda:

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah, tidak beriman, Demi Allah, tidak beriman, Demi Allah, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.”

  1. Menunaikan semua hak sebagai muslim kepada tetangga kita.
  2. Amar ma’ruf dan nahi munkar kepada tetangga kita.

Kajian Bulan April 2024 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah pada kesempatan kali ini DKM Masjid Baiturrahman kembali mengadakan Kajian Parenting Wali Santri TPQ, pada kesempatan kali ini yang menyampaikan kajian adalah Ustadz Muhammad Ridjal Hafidzahullah, dengan tema “Menanamkan Aqidah yang Benar pada Anak“.

Di dalam hal membina Aqidah, kita harus mengetahui apa itu Aqidah yang benar, karena ini adalah hal yang paling penting, Ini sangat mempengaruhi pola seseorang dalam berfikir. Oleh karena itu, Aqidah yang benar harus menjadi hal yang paling awal diajarkan kepada anak-anak kita.

Maka apa saja yang harus kita tanamkan dalam hal mendidik Aqidah anak-anak kita? Ada 5 Asas yang harus kita tanamkan:

  1. Kita mentalqin (Mendiktekan) kalimat Tauhid kepada anak kita.

Walaupun mereka belum paham, akan tetapi harus kita tanamkan karena ini akan masuk kedalam Alam Bawah sadar mereka. Nabi bersabda:

ما مِن مَوْلُودٍ إلَّا يُولَدُ علَى الفِطْرَةِ، فأبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أوْ يُنَصِّرَانِهِ، أوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidak ada seorang bayipun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fitrahnya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi.“

Para Ulama menjelaskan bahwa anak ketika lahir berasa dalam keadaan yakin bahwa Allah lah pencipta nya, dan dalam keadaan islam. Maka hendaklah ketika anak itu lahir dan bertumbuh kita selalu biasakan mereka untuk mendengarkan Kalimat Tauhid, Ayat-ayat Allah.

  1. Menanamkan rasa cinta, muraqabah, keimanan untuk meminta hanya kepada Allah, dan menanamkan keimanan kepada Takdir Allah.

Ibnul Qayyim berkata:

“Rasa cinta itu tumbuh karena 2 hal: Keindahan dan juga kebaikan.”

Tanamkan Rasa cinta kecintaan kepada Allah dengan menunjukkan ke Maha Indahan Allah. Kemudian tanamkan kecintaan kepada Allah dengan menunjukkan berapa baiknya Allah kepada kita. Kemudian tanamkan rasa Muraqabah, tanamkan bahwa kita selalu dalam pengawasan Allah. Allah berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

“Dia bersamamu di mana saja kamu berada.“

Dan juga harus kita tanamkan ketika mereka meminta hanya kepada Allah. Rasulullah bersabda kepada Ibnu ‘Abbas:

إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله

“Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah.“

  1. Menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga beliau.

Karena Islam berpatokan kepada 2 hal. Yaitu syahadat kepada Allah dan juga syahadat kepada Rasulullah, ini adalah kedua hal yang tidak bisa dipisahkan. Maka setelah kita menanamkan siapa itu Allah, kita harus menanamkan siapa itu utusan Allah, jelaskan kepada anak-anak kita bagaimana Akhlak Nabi, bagaimana kemuliaan Nabi Muhammad. Sehingga tumbuh cinta anak-anak kita kepada nya. Kita tunjukkan berapa cintanya Nabi kepada Ummatnya. Rasulullah bersabda:

كل أمتي يدخل الجنة إلا من أبى! قيل: ومن يأبى يا رسول الله؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى

“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan? Beliau menjawab: Siapa yang taat kepadaku akan masuk surga dan siapa yang membangkang kepadaku berarti ia enggan.“

Kemudian ajarkan juga tentang keluarga nabi, ajarkan tentang bagaimana mereka siap mengorbankan jiwa dan harta mereka membantu Rasulullah agar Agama islam ini tersebar, agar Ummat ini masuk kedalam surga Allah.

  1. Mengajarkan anak kita Al-Qur’an.

Setelah mengajarkan anak-anak kita kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah, ajarkan anak-anak kita menghafal Al-Qur’an, jika belum bisa membaca perdengarkan lah Al-Qur’an, jika sudah bisa membaca ajarkan membaca Al-Qur’an dengan benar. Kemudian bagaimana mentadabburi Al-Qur’an.

  1. Mendidik mereka agar anak-anak kokoh dalam memegang Aqidah.

Tunjukkan kepada anak-anak kita dampak langsung dari memiliki Aqidah yang benar, dan akibat buruk dari Aqidah yang salah. Tunjukkan mereka bahaya kesyirikan, besarnya dosa kesyirikan. Latihlah mereka untuk bergantung dengan Aqidahnya. ketika sakit beritahu anak kita bahwa ini adalah Takdir Allah. Sehingga mereka semakin yakin dengan apa yang sudah diajarkan dalam poin-poin sebelumnya.