Arsip Kategori: Parenting

Kajian Parenting Bulan Desember 2024 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah, Pada hari Sabtu, 28 Desember 2024 ini, Kami mendapatkan kesempatan untuk mengadakan kajian Parenting bersama Ustadz Drs. Muhammad Ridjal, Psikolog dengan tema “Menanamkan Adab dan Akhlak Mulia pada Anak” yang diadakan di Masjid Baiturrahman LBE Salira.

Kajian ini dihadiri oleh para Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman & segenap pengajar ngaji di TPQ Masjid Baiturrahman.

Dalam mendidik anak itu memanglah harus komperhensif, sehingga anak itu menjadi seimbang. Jangan sampai anak hanya bagus salam satu sisi tetapi jelek dalam sisi lainnya.

Nah, pada kesempatan kali ini akan dibahas bagaimana mendidik Akhlak seorang anak. Karena banyak di zaman sekarang ini, anak-anak begitu tidak berakhlak. Maka penting bagi kita mempelajari adab dan akhlak Islam.

Para Ulama membedakan tentang adab dan Akhlak. Adab adalah etika berperilaku, bagaimana makan, minum, berbicara sesuai dengan ajaran Islam yang mulia.

Kepada siapakah dan Apa saja Adab yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita?

Lanjutkan membaca →

Kajian Parenting Bulan Oktober 2024 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah, Pada hari Sabtu, 26 Oktober 2024 ini, Kami mendapatkan kesempatan untuk mengadakan kajian Parenting bersama Ustadz Drs. Muhammad Ridjal, Psikolog dengan tema “Mendidik Interaksi Sosial Pada Anak” yang diadakan di Masjid Baiturrahman LBE Salira.

Kajian ini dihadiri oleh para Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman & segenap pengajar ngaji di TPQ Masjid Baiturrahman.

Sebagai orangtua, hendaklah memperhatikan setiap sisi perkembangan anak. Bukan hanya kepintaran, tetapi hal hal lainnya juga harus diperhatikan. Bagaimana emosional nya, bagaimana sosialnya, bagaimana pola hidupnya, hendaklah diperhatikan. Sehingga segala aspek perkembangan anak itu menjadi baik. Jangan sampai anak itu pintar, tetapi menjadi penyendiri, sulit bergaul.

Bukankah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Lantas, bagaimana cara mendidik Interaksi sosial yang baik pada anak?

Dalam sebuah hadits dari Sahabat Anas bin Malik. Bahwasanya tatkala ia melewati seorang anak kecil, ia mengucapkan salam kepada anak tersebut, kemudian beliau berkata:

كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَفْعَلُهُ

“Nabi Shalallahu alaihi wasallam melakukannya.”

Maka inilah langkah pertama, yaitu menstimulasi anak untuk terbiasa mengucapkan salam. Kita memulai dengan mengucapkan salam terlebih dahulu, sehingga anak terbiasa merespon salam dan sapaan tersebut.

Kedua: Mengajak anak-anak kita untuk berinteraksi di komunitas orang tua. Sehingga anak akan melihat, bagaimana orang tuanya berinteraksi. Kemudian ia mempelajari bagaimana cara berinteraksi. Maka sebagai orangtua hendaklah memberi contoh yang baik.

Ketiga: Melatih anak-anak untuk menjadi utusan kita dalam melaksanakan suatu kebutuhan. Bukan berarti orangtua tersebut malas, akan tetapi melatih anak tersebut untuk berani dan bertanggungjawab.

Keempat: Memberitahu dan membiasakan anak untuk memulai sapaan dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.

Kelima: Hendaklah mengunjungi anak ketika sakit, doakan ia dan lebih utama berikanlah sesuatu. Karena anak akan merasakan rasa nyaman, rasa senang tatkala dikunjungi. Sehingga hal ini membangun empati dari anak agar tatkala temannya sakit, ia berinisiatif untuk mengunjungi nya, mendoakannya. Karena ia dilatih untuk merasakan perasaan orang lain.

Keenam: Mencarikan sahabat yang baik untuk anak-anaknya. Bagaimana caranya?
Ada 3 cara:

  1. Kita harus mencarikan lingkungan yang baik.
  2. Mencarikan lingkungan sekolah yang baik untuk anak.
  3. Kalau memang tidak bisa mencarikan lingkungan yang baik, hendaklah menciptakan lingkungan yang baik.

Ketujuh: Melatih anak-anak berinteraksi sosial dalam kegiatan ekonomi. Latih mereka untuk berjualan beli. Bukan untuk mencari uang, tetapi supaya mereka paham bagaimana jual beli yang baik, jual beli yang jujur. Ajarkan mereka adab berjualan yang baik, larangan dusta dan menipu tatkala berjualan.

Kedelapan: Mengajak anak-anak untuk menghadiri perayaan yang disyariatkan. Seperti Idul Fitri, Walimah. Sehingga mereka tau bagaimana kaum muslimin berinteraksi. Ajarkan kepada mereka bagaimana berinteraksi dalam lingkungan yang banyak manusia di dalamnya.

Kesembilan: Menginapkan anak di kerabat yang shalih keluarganya. Supaya anak belajar, bagaimana kehidupan islami di keluarga itu.

Berikut adalah rekaman kajian Parenting Bersama Ustadz Drs. Muhammad Ridjal, Psikolog.

Kajian Bulan Agustus 2024 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah pada kesempatan kali ini DKM Masjid Baiturrahman kembali mengadakan Kajian Parenting Wali Santri TPQ, pada kesempatan kali ini yang menyampaikan kajian adalah Ustadz Muhammad Ridjal Hafidzahullah, dengan tema “Melatih Anak untuk Beribadah kepada Allah“.


Setelah kita mengajarkan kepada anak-anak kita Aqidah yang benar, Mengajarkan tentang Siapakah Allah, Maka hendaklah kita melanjutkan nya dengan mengajarkan bagaimana Menyembah Allah dengan sebenar-benarnya. Allah Ta’ala berfirman:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”

Maka bagaimana cara kita melatih anak-anak kita untuk beribadah kepada Allah?

  1. Jika Anak kita belum mencapai 7 Tahun, maka latih mereka beribadah dengan memberikan contoh kepada mereka. Perkenalkan mereka dengan ibadah, Ajak anak-anak kita ke masjid, tunjukkan bagaimana cara Shalat. Demikian pula ibadah lainnya. Tunjukkanlah cara beribadah yang benar sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah.
  2. Ketika anak baru belajar beribadah, hendaklah kita memberikan motivasi, berikan mereka hadiah jika ia menjalankannya dengan baik, dan jangan langsung menghukumnya jika mereka salah, nasehati lah dengan baik. Jika masih dengan sengaja membuat kesalahan, peringatkan, kalau masih tidak bisa, ancamlah ia dengan pukulan, kemudian jika memang harus dipukul, pukullah dengan baik, dengan tujuan menasehati, bukan didasari emosi. Adapun memukul itu memiliki kaidahnya tersendiri:
  • Tidak boleh memukul sebelum usia 10 Tahun
  • Tidak boleh memukul dengan alat yang terlalu keras
  • Tidak boleh memukul di satu tempat saja
  • Tidak boleh memukul sampai terlihat ketiak
  • Tidak boleh memukul kepala dan kemaluan
  • Tidak boleh memukul dalam keadaan marah
  • Tidak boleh memukul lebih dari 10 kali
  • Hentikan memukul ketika anak menyebut nama Allah

3. Kemudian setelah mereka sudah terbiasa dengan ibadah fardhu, ajari mereka untuk menambah nya dengan ibadah-ibadah Sunnah. Jika mereka sudah terbiasa shalat Fardhu, ajari mereka shalat Nafilah. Ajari mereka shalat malam. Begitupula amalan yang lainnya. Akan tetapi, jangan memaksa anak untuk ibadah Sunnah, hendaklah kita motivasi, berikan penghargaan atas ibadah Sunnah yang mereka lakukan. Sehingga ketika memasuki usia Baligh, ketika catatan Amal mereka dibuka, mereka sudah terbiasa dan tertib shalatnya dan juga ibadah lainnya.

Kajian Bulan Mei 2024 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah pada kesempatan kali ini DKM Masjid Baiturrahman kembali mengadakan Kajian Parenting Wali Santri TPQ, pada kesempatan kali ini yang menyampaikan kajian adalah Ustadz Muhtadi Hafidzahullah, dengan tema “Bagaimana Adab Islam kepada Tetangga“.

Manusia adalah makhluk sosial, yang artinya manusia pasti akan berinteraksi dengan sesamanya, termasuk kepada tetangga. Islam sebagai Agama yang sempurna, mengatur setiap sendi kehidupan kita, termasuk bagaimana seharusnya kita bertetangga. Bahkan Rasulullah menggandengkan perintah memuliakan tetangga ini dengan Iman kepada Allah. Rasulullah bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”

Maka diantara adab yang diajarkan Rasulullah tentang bagaimana kita harus bertetangga adalah:

  1. Memilih tetangga yang sholeh
    Jika kita ingin pindah ke lingkungan yang baru, hendaklah kita memilih lingkungan yang baik, yang ingat kepada Allah dan baik kepada sesama.
  2. Mencintai untuk tetangganya apa-apa yang disukai untuk dirinya dari kebaikan. Rasulullah bersabda:

وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِه مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba dikatakan beriman (dengan iman yang sempurna) hingga ia mencintai tetangganya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

  1. Tidak menyakiti tetangga dengan cara apapun, baik perkataan, ataupun perbuatan.
  2. Senantiasa berbuat baik kepada tetangga kita.
  3. Berusaha bersabar atas keburukan tetangga kita.
  4. Memberi tetangga kita makanan tatkala kita memasak terutama jika tetangga kita fakir.

Rasulullah bersabda:

ليس المؤمن الذي يشبع وجاره جائع إلى جنبه

“Bukanlah seorang mu’min, seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sisinya.”

  1. Membantu tetangga kita jika mereka membutuhkan.
  2. Berempati dalam gembira maupun sedihnya. Tatkala mereka gembira kita turut bersuka cita. Tatkala mereka sedih kita juga merasakan kesedihannya.
  3. Tidak menghalangi tetangganya meletakkan sesuatu di sisi rumah kita, selama tidak mengganggu.
  4. Menjaga kehormatan tetangga kita dan tidak berkhianat tetangga kita. Rasulullah bersabda:

وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Demi Allah, tidak beriman, Demi Allah, tidak beriman, Demi Allah, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.”

  1. Menunaikan semua hak sebagai muslim kepada tetangga kita.
  2. Amar ma’ruf dan nahi munkar kepada tetangga kita.

Kajian Bulan April 2024 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah pada kesempatan kali ini DKM Masjid Baiturrahman kembali mengadakan Kajian Parenting Wali Santri TPQ, pada kesempatan kali ini yang menyampaikan kajian adalah Ustadz Muhammad Ridjal Hafidzahullah, dengan tema “Menanamkan Aqidah yang Benar pada Anak“.

Di dalam hal membina Aqidah, kita harus mengetahui apa itu Aqidah yang benar, karena ini adalah hal yang paling penting, Ini sangat mempengaruhi pola seseorang dalam berfikir. Oleh karena itu, Aqidah yang benar harus menjadi hal yang paling awal diajarkan kepada anak-anak kita.

Maka apa saja yang harus kita tanamkan dalam hal mendidik Aqidah anak-anak kita? Ada 5 Asas yang harus kita tanamkan:

  1. Kita mentalqin (Mendiktekan) kalimat Tauhid kepada anak kita.

Walaupun mereka belum paham, akan tetapi harus kita tanamkan karena ini akan masuk kedalam Alam Bawah sadar mereka. Nabi bersabda:

ما مِن مَوْلُودٍ إلَّا يُولَدُ علَى الفِطْرَةِ، فأبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أوْ يُنَصِّرَانِهِ، أوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidak ada seorang bayipun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fitrahnya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi.“

Para Ulama menjelaskan bahwa anak ketika lahir berasa dalam keadaan yakin bahwa Allah lah pencipta nya, dan dalam keadaan islam. Maka hendaklah ketika anak itu lahir dan bertumbuh kita selalu biasakan mereka untuk mendengarkan Kalimat Tauhid, Ayat-ayat Allah.

  1. Menanamkan rasa cinta, muraqabah, keimanan untuk meminta hanya kepada Allah, dan menanamkan keimanan kepada Takdir Allah.

Ibnul Qayyim berkata:

“Rasa cinta itu tumbuh karena 2 hal: Keindahan dan juga kebaikan.”

Tanamkan Rasa cinta kecintaan kepada Allah dengan menunjukkan ke Maha Indahan Allah. Kemudian tanamkan kecintaan kepada Allah dengan menunjukkan berapa baiknya Allah kepada kita. Kemudian tanamkan rasa Muraqabah, tanamkan bahwa kita selalu dalam pengawasan Allah. Allah berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

“Dia bersamamu di mana saja kamu berada.“

Dan juga harus kita tanamkan ketika mereka meminta hanya kepada Allah. Rasulullah bersabda kepada Ibnu ‘Abbas:

إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله

“Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah.“

  1. Menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga beliau.

Karena Islam berpatokan kepada 2 hal. Yaitu syahadat kepada Allah dan juga syahadat kepada Rasulullah, ini adalah kedua hal yang tidak bisa dipisahkan. Maka setelah kita menanamkan siapa itu Allah, kita harus menanamkan siapa itu utusan Allah, jelaskan kepada anak-anak kita bagaimana Akhlak Nabi, bagaimana kemuliaan Nabi Muhammad. Sehingga tumbuh cinta anak-anak kita kepada nya. Kita tunjukkan berapa cintanya Nabi kepada Ummatnya. Rasulullah bersabda:

كل أمتي يدخل الجنة إلا من أبى! قيل: ومن يأبى يا رسول الله؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى

“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan? Beliau menjawab: Siapa yang taat kepadaku akan masuk surga dan siapa yang membangkang kepadaku berarti ia enggan.“

Kemudian ajarkan juga tentang keluarga nabi, ajarkan tentang bagaimana mereka siap mengorbankan jiwa dan harta mereka membantu Rasulullah agar Agama islam ini tersebar, agar Ummat ini masuk kedalam surga Allah.

  1. Mengajarkan anak kita Al-Qur’an.

Setelah mengajarkan anak-anak kita kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah, ajarkan anak-anak kita menghafal Al-Qur’an, jika belum bisa membaca perdengarkan lah Al-Qur’an, jika sudah bisa membaca ajarkan membaca Al-Qur’an dengan benar. Kemudian bagaimana mentadabburi Al-Qur’an.

  1. Mendidik mereka agar anak-anak kokoh dalam memegang Aqidah.

Tunjukkan kepada anak-anak kita dampak langsung dari memiliki Aqidah yang benar, dan akibat buruk dari Aqidah yang salah. Tunjukkan mereka bahaya kesyirikan, besarnya dosa kesyirikan. Latihlah mereka untuk bergantung dengan Aqidahnya. ketika sakit beritahu anak kita bahwa ini adalah Takdir Allah. Sehingga mereka semakin yakin dengan apa yang sudah diajarkan dalam poin-poin sebelumnya.

Kajian Bulan Februari 2024 | Ibu-Ibu Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Alhamdulillah pada kesempatan kali ini DKM Masjid Baiturrahman kembali mengadakan Kajian Parenting Wali Santri TPQ, pada kesempatan kali ini yang menyampaikan kajian adalah Ustadz Muhammad Ridjal Hafidzahullah, dengan tema “Mendidik Anak dengan Seimbang“.

Faktor-faktor yang menjadikan Seorang anak Sholeh bukan hanya sekedar sarana saja, akan tetapi bagaimana sikap seorang ibu, bagaimana Seorang ibu menghiasi dirinya dengan sikap pendidik, sehingga ibu dapat menjadi contoh bagi anaknya.
Setelah seorang ibu melakukan ikhtiar yang maksimal agar menjadi contoh bagi anaknya, maka kemudian hendaklah seorang ibu memikirkan apa saja yang harus ia didik pada anaknya. Sebagai manusia, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna. Sebagaimana firman Allah تعالى dalam QS. At-Tin: 4


لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ


“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Artinya Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang komplit. Ia memiliki keinginan, memiliki hasrat untuk bergaul, ia memiliki emosi. Disinilah peran seorang Ibu untuk menuntun anaknya menjadi seorang yang bukan hanya cerdas, namun juga menjadi seorang hamba yang dekat dengan Allah.

Maka Faktor-faktor yang harus ditanamkan oleh seorang ibu kepada anaknya agar menjadi seorang yang Shalih dan Shalihah adalah:

  1. Mendidik Aqidah mereka, Keyakinan yang benar, Aqidah yang diajarkan oleh Rasulullah. Jangan sampai kita menanamkan kepada anak kita Keyakinan yang salah, keyakinan yang batil.
  2. Membina Ibadah mereka, Seorang ibu harus mendidik anak-anaknya beribadah yang benar. Bagaimana wudhu yang benar, bagaimana Sholat yang benar, dan ibadah yang lainnya. Sehingga ketika mereka sudah baligh, mereka sudah terbiasa untuk sholat, puasa dan ibadah lain dengan benar.
  3. Mendidik mereka dalam Interaksi sosial. Agar mereka tahu bagaimana sosialisasi yang benar, agar mereka tahu bagaimana bergaul dengan orang yang lebih tua, bagaimana bicara dengan sopan dan santun, dan agar mereka tahu siapa teman yang baik dan teman yang buruk. Rasulullah bersabda:
    الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”.

  1. Menanamkan nilai-nilai Akhlaq. Seorang ibu harus mengajarkan anaknya Akhlaq dan moral. Mereka harus tau mana yang baik dan mana yang buruk. Bagaimana adab ketika bertamu, dan sebagainya.
  2. Membina kehidupan Perasaan dan Emosinya. Mereka belajar tentang kepekaan, bagaimana emosi nya, bagaimana ia memahami emosi dan perasaan orang lain.
  3. Membina intelektualitasnya. Seorang ibu memberikan peluang kepada anaknya untuk berkembang sesuai dengan potensinya.
  4. Membina fisik mereka. Selain Intelektual nya, hendaklah kita melatih fisik anak-anak kita. Supaya mereka kuat, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
  5. Membina pola hidup sehat. Mengajarkan mereka makan yang sehat, minum yang sehat, tidur tepat waktu, dan sebagainya. Sehingga mereka terbiasa dengan pola hidup sehat.
  6. Mendidik mereka sesuai dengan jenis kelamin mereka. Jangan sampai seorang anak terjerumus kepada penyimpangan seksual. Banyak di zaman sekarang perilaku meyimpang, seorang laki-laki berperilaku seperti perempuan dan sebaliknya disebabkan salahnya pola asuh ketika kecil.

Inilah Faktor-faktor yang harus ditanamkan secara seimbang kepada seorang anak, agar mereka tidak hanya pintar juga menjadi hamba yang dekat kepada Allah.

Kajian Bulan Desember 2023 | Wali Santri TPQ Masjid Baiturrahman

Merindukan Anak yang Shalih

Kita pasti ingin memiliki anak yang Sholeh dan Sholihah, akan tetapi hal ini tidak lah semudah yang dibayangkan. Begitu banyak di zaman ini orangtua mengharapkan anak yang shalih dan shalihah, akan tetapi mereka tidak mencerminkan keshalihan. Banyak do’a yang telah dicontohkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Di antaranya ada do’a yang berasal dari para Nabi ‘alaihimush sholaatu was salaam.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam berkata,
«رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحين»
“Ya Allah, Anugerahkanlah kepadaku (Seorang Anak) yang termasuk diantara orang-orang yang Shalih.”

Maka diantara sikap orangtua agar mendapat anak yang Sholeh dan Sholihah:

  1. Orangtua adalah “Al-Madrasatul Ula”. Orangtua adalah tempat pertama seorang anak untuk mengambil ilmu, dari orangtua lah anak mendapat contoh perilaku, akhlak dan sifat. Orangtua harus memberi contoh dan mengontrol masalah ibadah seorang anak.
  2. Berikan makan anak kita dari barang yang halal, jangan berikan mereka makan dari Rizki yang haram.
  3. Perkenalkan dan pergaulkan anak-anak kita dengan orang-orang Shalih. Jangan sampai anak kita bergaul dengan orang-orang yang salah, yang tidak sholat, sehingga anak kita menjadi malas untuk beribadah. Rasulullah juga bersabda:
    «الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُر أَحَدُكُم مَنْ يُخَالِل»
    “Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang dari kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekatnya.”
  4. Berikan anak kita pelajaran tentang Al-Qur’an, jika kita tidak mampu maka antarkanlah kepada ustadz, sehingga anak kita menjadi seorang yang paham agama.
  5. Hendaklah orangtua memberikan nama anaknya dengan nama nama yang baik. Diantara nama terbaik yang disukai Rasulullah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.